SUATU MALAM DI GETSEMANI

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Bila ada hal yang tak bisa dihentikan, ia adalah sesuatu bernama waktu. Baru kemarin rasanya kita mengikuti Perjamuan Kudus, mengenang kematian Yesus, dan merayakan kebangkitan-Nya. Tahu-tahu sekarang sudah di akhir April! Namun, pada serangkaian peristiwa Paskah kemarin, ada satu bagian yang hingga kini menggema kuat bagiku… suatu bagian yang menegaskan pada kita akan panggilan untuk finish well, mengakhiri dengan baik.

Mari kita mulai dengan membaca penggalan nats dari Markus 14:33-36:

Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Malam itu, Yesus pergi ke sebuah tempat di bukit Zaitun. Di sana terdapat sebuah taman bernama Getsemani. Nama “Getsemani” berarti “tempat pemerasan minyak”. Di sana orang-orang mengumpulkan buah zaitun, meletakkannya ke dalam sebuah alat yang berbentuk cekungan dan menggilingnya hingga keluar minyak.

Yesus tidak sendirian. Dia pergi ke sana bersama Petrus, Yakobus, dan Yohanes, tiga orang pengikut terdekat-Nya. Waktu itu bukanlah waktu biasa, tapi jam-jam terakhir sebelum Yesus ditangkap dan akan segera menghadapi eksekusi mati-Nya. Sampai di sini, mari kita berhenti sejenak. Coba bayangkan, bila kamu berada di saat-saat terakhir, kamu tahu sebentar lagi kita akan dihukum mati, kira-kira apa yang kamu harap bisa lakukan bersama dengan sirkel terdekatmu? Mungkin, jawaban yang paling umum adalah kamu ingin orang-orang yang kamu kasihi menemanimu, ada di dekatmu. Demikian juga dengan Yesus. Maksud-Nya mengajak ketiga murid-Nya adalah untuk menemani berdoa, tapi mereka justru tertidur karena kelelahan.

Mendapati ketiga murid-Nya tak sanggup menemani, Yesus berdoa kepada Bapa. Yesus mengutarakan ketakutan-Nya. Tapi.. bukankah Yesus adalah Allah yang Mahatahu? Mengapa Dia berbicara dengan penuh emosi dan tampak begitu lemah?

Di sinilah poin yang menarik untuk kita cermati. Yesus adalah Allah dan Dia tahu bahwa sebentar lagi Dia akan mengalami keterpisahan dengan Bapa. Inilah yang menjadikan-Nya begitu takut.

 

 

Pernahkan kamu berbicara dengan Bapa yang di Surga seintim itu? Tapi, bukannya Yesus itu Allah? Seharusnya Dia tahu segala sesuatu yang akan dihadapi-Nya, kan? Tentu saja, Dia itu Allah yang Maha Tahu. Tapi, Dia berbicara dengan penuh emosional dan manusiawi. Bagaimana mungkin Yesus yang kita kenal sebagai Juru Selamat dan yang oleh para pemazmur disebut-sebut sebagai Kota Benteng dan Kubu Pertahanan itu malah mengalami titik paling rendah, titik paling lemah, dalam kehidupan-Nya?

‘Sangat takut’ dan ‘gentar’ di Alkitab versi terjemahan lain disebut juga sebagai ‘distress’ atau ‘sangat tertekan’. ‘Distress’ merupakan kondisi menderita sakit secara psikologis atau fisik yang ekstrem. Itulah sebabnya, Alkitab mencatat bahwa dalam masa-masa ketakutan itu keringat Yesus berubah menjadi seperti butir-butir darah (Lukas 22:44).

Alkitab mencatat ada peristiwa-peristiwa lain ketika Yesus bergumul dengan perasaan takut dan sedih. Pendeta Joyman Waruwu menuliskan demikian, “Yesus tahu Ia akan membangkitkan Lazarus, namun Ia tetap menangis ketika tiba di depan kuburan Lazarus. Yesus sendiri pun tahu akan bangkit pada hari ketiga, namun Dia tetap menangis dan berpeluh darah di taman Getsemani. Pengetahuan akan sukacita masa depan tidaklah meniadakan duka pada masa sekarang. Namun, sama seperti Yesus, pengetahuan akan masa depan dapat menginspirasi kita bertahan melewati rasa sakit, ketegangan, dan penderitaan yang luar biasa.

Ketika memutuskan untuk ikut Tuhan Yesus, kita juga menghadapi begitu banyak pergumulan. Kita mencoba tetap lurus ketika yang lain berkompromi, kita berusaha jujur ketika samping kanan dan kiri kita mengatakan ‘berbohong demi kebaikan itu no problem’, kita memilih jalan memutar yang lebih sempit ketika lewat jalan pintas yang lebar itu terlihat jauh lebih mudah dan menguntungkan. Kadang kita sudah lelah, tertekan, takut, dan gelisah, seperti mau mati rasanya! Tapi lihatlah, Tuhan Yesus sudah pernah melalui semua itu, bahkan yang terburuk dari semua itu—ditinggalkan, dikhianati, disiksa, dan pada akhirnya, mati di kayu salib.

Suatu malam di Getsemani ini kiranya menjadi pengingat untukmu dan untukku. Juru Selamat kita adalah Teladan Besar kita untuk terus maju dengan setiap panggilan kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.

Ingatlah, ketika kita merasa sedang berada di titik terendah dan terlemah kita, kita dapat datang kepada Bapa Surgawi, sama seperti Yesus yang pernah menangis dan tersungkur di hadapan Bapa-Nya. Ingatlah kembali komitmen kita, sebagaimana Kristus taat pada panggilan-Nya sampai akhir.

Yesus mengakhiri dengan baik, demikian juga kita harus terus maju, melangkah dalam iman, pengharapan, dan kasih hingga hari-Nya tiba!